Tantangan dan Urapan

1. Pendahuluan

Kehidupan orang muda di mana pun selalu diidentikkan dengan kesenangan dan keriangan. Itulah masa di mana semua orang berkata Enjoy aja! Di satu sisi memang semua orang muda harus menikmati masa mudanya dengan penuh sukacita seperti yang dianjurkan oleh Salomo, tetapi di dalamnya tetap ada pertanggungjawaban kepada Tuhan (Pengkh. 11.9-10). Justru untuk menjadi orang muda yang berkenan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang easy dan instant, melainkan melalui proses yang cukup panjang.

Allah telah menyelamatkan kita oleh pengorbanan Yesus Kristus, dan kemudian mengutus kita seperti domba di tengah serigala (Mat 10.16). Itu berarti bahwa hidup kita penuh dengan tantangan. Untuk bisa mengatasinya, Yesus menasihati kita agar kita “cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Dalam tulisan ini kita akan melihat kembali berbagai tantangan yang telah, sedang, dan akan kita hadapi, serta bagaimana caranya agar kita mampu melewati segala tantangan tersebut.


2. Jenis-jenis Tantangan

Dalam kehidupan setiap orang percaya, sebenarnya hanya ada 2 (dua) jenis tantangan, yaitu tantangan internal dan eksternal.

Tantangan internal adalah tantangan yang berasal dari daging atau diri kita sendiri (Roma 7.24). Karena manusia diciptakan oleh Tuhan menurut rupa dan gambar-Nya, maka manusia terdiri atas 3 (tiga) unsur penting: roh, jiwa, dan tubuh. Kejatuhan manusia ke dalam dosa menyebabkan tdak berfungsinya ketiga itu secara maksimal, karena dosa menyebabkan manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3.23).

Tantangan eksternal adalah tantangan yang berasal dari luar diri kita (dari dunia atau dari kuasa kegelapan – 1 Yoh 2.16). Tantangan ini dapat lebih dirinci sebagai berikut.

(a) Tantangan iman dan pengajaran

Terdapat berbagai upaya dari pelbagai pihak untuk menggoncang iman Kristiani khususnya di kalangan orang-orang muda. Iman merupakan dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan sekaligus bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11.1).

Sebagai dasar maka iman tidak boleh goyah, khususnya berkaitan dengan pengharapan yang telah disediakan Allah bagi kita. Jika dasar itu goyah, maka runtuhlah seluruh bangunan di atasnya.

Sebagai bukti maka iman berkaitan erat dengan pengharapan. Pengharapan ini memang belum kita peroleh sekarang, tetapi akan diperoleh kelak. Pengharapan merupakan pendorong untuk maju. Itu berarti bahwa iman membutuhkan ketekunan (Roma 8.25). Hanya mereka yang bertekun dalam iman, yang tetap setia sampai akhir, yang akan tampil sebagai pemenang.

Banyak anak muda yang gugur imannya karena mereka tidak memfokuskan iman mereka kepada Yesus Kristus dan kebenaran firman-Nya, melainkan kepada manusia serta situasi dan kondisi yang cocok di hatinya (Ibr 12.2). Yang lain lagi karena mereka menginginkan segala sesuatunya berlangsung secara instant, kurang bersabar.

Setiap orang muda Kristen juga harus kuat dalam pengajaran firman. Sejak zaman Paulus hingga menjelang kedatangan Yesus Kristus untuk yang kedua kalinya, selalu timbul berbagai angin pengajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Dan … selalu saja ada anak Tuhan yang terseret dalam pengajaran yang sesat.

(b) Tantangan hedonisme dan kekudusan

Tantangan berikutnya adalah menyangkut kesenangan daging (hedonisme). Mulai dari makanan, pakaian, mode rambut, dan berbagai bentuk penampilan lainnya. Pesta dan hidup berfoya-foya adalah cirri generasi muda masa kini. Biasanya acara-acara seperti itu disertai dengan rokok, minum minuman keras, narkoba, kekerasan dan free sex. Di sini kekudusan hidup anak muda dipertaruhkan.

Dalam tantangan ini, termasuk juga di dalamnya musik yang tidak kudus. Liriknya penuh sumpah serapah, jorok/porno, dan menista Tuhan. Hentakan musik-nya menjadi symbol freedom (kebebasan).

Banyak anak muda yang sebenarnya diharapkan Allah untuk dapat menjadi alat bagi kemuliaan-Nya kemudian tidak menjaga kekudusannya. Akhirnya ia terjerumus semakin dalam. Namun sebagaimana anak bungsu yang hilang itu mau kembali ke rumah bapanya, maka selalu ada pemulihan.

(c) Tantangan kebenaran dan kejujuran

Baik di sekolah atau kampus, sampai ke dunia bisnis, selalu ada tantangan untuk tetap hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Dusta tidak lagi dianggap suatu dosa yang serius. Banyak orang yang tidak mau bersyukur atas keberadaannya dan selalu ingin menjadi seperti orang lain. Akhirnya ia melakukan manipulasi, meng-gunakan topeng, dan berbuat tidak jujur.

Banggakah kita menjadi warga negara dari sebuah negara yang berprestasi dalam hal korupsi? Jika tidak sejak masa muda kita belajar hidup benar dan jujur, kapan lagi?

(d) Tantangan zaman – postmodernisme

Tantangan lainnya adalah paham post-modernisme. Setelah manusia menjadi jenuh dengan berbagai perkembangan iptek sebagai hasil dari penggunaan rasio yang luar biasa, manusia kemudian mencoba melepaskan diri dengan memuaskan hasrat spiritualnya. Sayangnya, manusia tidak kembali kepada Tuhan, melainkan kepada hidup spiritualitas semau-maunya. Jika dalam era modernisme, manusia mengeksploitasi alam, sekarang manusia menyatu dengan alam, bahkan mengambil “energi alam” melalui berbagai praktek “kesehatan” seperti: yoga, energi prana, kundalini, dan sebagainya.

Banyak yang tidak menyadari bahwa itu adalah produk dari gerakan zaman baru (new age movement), yang bukannya membuat manusia semakin mendekat kepada Tuhan, melainkan semakin menjauhi-Nya. Yesus pun tidak lagi dipandang sebagai Jalan Keselamatan satu-satunya (Yoh 14.6), melainkan disejajarkan dan disembah bersama dengan ilah-ilah lainnya. Spritualitas gado-gado , namanya.

(e) Tantangan dalam pelayanan

Tantangan yang tidak kalah sengitnya justru ada dalam pelayanan di gereja kita. Pelayanan sebenarnya adalah sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita. Ia memberikan karunia-karunia rohani dalam diri kita untuk bisa menunaikan berbagai tugas pelayanan. Dalam sebuah gereja lokal, kita diumpamakan sebagai anggota-anggota dari Tubuh Kristus. Beda tempat dan bentuk karunianya, tetapi semuanya berfungsi dan saling melengkapi. Tak ada yang tidak memperoleh karunia, minimal satu. Tak ada pula karunia yang hina, semuanya penting bagi kemuliaan Tuhan.

Tantangan yang ada dalam pelayanan pada umumnya berkaitan dengan ke-tidak-dewasaan rohani, iri hati, pembentukan klik-klik seperti jemaat di Korintus, dan sebagainya. Ada yang tidak mampu bertahan menghadapi tantangan ini akhirnya mundur dari pelayanan, bahkan ada yang undur jauh dari Tuhan.

Setelah kita melihat berbagai tantangan di atas, apakah yang dapat kita lakukan? Berbagai tantangan itu dapat diatasi dengan pengurapan dari Tuhan.



3. Makna dan Fungsi Urapan
Jika kita meneliti Perjanjian Lama, maka istilah “urapan” melekat dengan fungsi dan jabatan yang dipercayakan Tuhan kepada orang-orang tertentu. Ada urapan nabi, imam, dan raja. Masing-masing urapan bersifat khas, dan belum tentu dapat digunakan untuk fungsi lain. Daud, misalnya diurapi untuk menjadi raja. Sejak ia diurapi oleh Samuel dan seterusnya, “berkuasalah Roh TUHAN atas Daud” (1 Sam 16.13). Pengurapan berkaitan dengan otoritas menjadi seorang pemimpin. Selalu ada dampak yang luar biasa dari seorang yang diurapi Tuhan. Ia bisa menjadi history maker, bukan trouble maker.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus memiliki pengurapan rangkap, sekaligus sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Pengurapan juga diberikan kepada setiap orang percaya untuk menunaikan Amanat Agung-Nya (Kisah 1.8). Apa sajakah dampak pengurapan itu atas hidup kita?

(a) Mampu mematikan kuasa dosa

Orang yang diurapi Tuhan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mematikan segala perbuatan daging. Yang dimaksud dengan perbuatan daging didaftarkan dengan jelas dalam Gal 5.19-21. Ia mampu menyalibkan daging dengan segal anafsu dan dan keinginannya (Gal 5.25), dan bahkan mampu menghasilkan buah Roh (Gal 5.22-23).

(b) Memiliki pengajaran yang kuat

Pengurapan dari Tuhan membuat kita dapat memiliki pengajaran yang kuat (1 Yoh 2.27). Untuk dapat memiliki iman dan pengajaran yang kuat, satu-satunya jalan adalah bersekutu dengan firman secara teratur. Kerinduan ini dimunculkan oleh Roh Kudus. Dialah yang akan membimbing kita sehingga kita haus akan kebenaran, menggali dan memperdalam kebenaran firman Allah, melakukan kebenaran bahkan mengajarkannya kepada orang lain.

Nasihat Paulus kepada Timotius agar ia mengawasi diri dan pengajaran yang dimilikinya harus kita perhatikan baik-baik. Dengan melakukan hal itu dalam ketekunan, akan menyelamatkan diri kita dan semua orang yang mendengarkan kita (1 Tim 4.16).

(c) Memiliki ketegasan dan memperoleh kemenangan

Orang yang diurapi Tuhan memiliki prinsip hidup yang kuat dan tegas, serta hidupnya penuh dengan kemenangan. Yosua tegas terhadap dosa yang dilakukan Achan (Yos 7.19-26). Rasul Petrus yang penuh urapan juga tegas terhadap dosa Ananias dan Safira (Kisah 5.1-11). Tak ada kompromi dengan dosa!

Urapan juga menghasilkan kemenangan yang gilang gemilang. Otniel dihinggapi Roh TUHAN, sehingga ia mampu menaklukkan musuhnya dan mendatangkan keamanan 40 tahun bagi bangsanya. Daud menang terhadap Goliat yang menghina Tuhan dan terus mengalami kemenangan atas musuh-musuhnya (1 Sam 17.50; 2 Sam 8.14b).

Orang yang penuh urapan lari menjauhi dosa sama seperti yang dilakukan Yusuf (Kej 39:11-23). Orang yang diurapi Tuhan juga segera menyadari dosa yang dilakukannya, dan segera bertobat. Ia tidak lagi menikmati dosa itu, melainkan memulai kehidupan yang baru. Perhatikan doa Daud agar urapan itu tidak hilang dari hidupnya (Maz 51.13).

(d) Menyenangkan hati Tuhan

Orang yang diurapi Tuhan hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya: menyenangkan hati Tuhan. Ia tidak lagi menyukai hidup yang hedonis, melainkan rela berkorban untuk menolong orang lain. Apakah Yohanes Pembaptis hedonis? Apakah Yesus Kristus sendiri hedonis? Apakah para murid Yesus hedonis? Apakah rasul Paulus hedonis? Sama sekali tidak, bukan?

Kita harus hidup dalam kesederhanaan, dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini, agar kita mengenal kehendak Allah (Roma 12.1-2). Jika kita memiliki banyak harta, jauh lebih baik dipakai untuk memuliakan Tuhan dengan menolong mereka yang berkekurangan. Orang yang diurapi tidak lagi ingin menyenangkan diri sendiri.

(e) Mengenal dan menyembah Allah yang benar

Orang yang diurapi Tuhan juga belajar untuk mengenal Allah, dan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Ia tahu kepada Siapa ia percaya, yaitu Allah yang ber-Pribadi, yang menyatakan Diri-Nya dalam Yesus Kristus, untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Tidak ada Allah seperti Dia!

Keyakinan semacam ini bukan fanatisme, melainkan kebenaran. Memang ada banyak jalan ke Roma, tetapi hanya satu jalan ke sorga (Yoh 14.6; Kisah 4.12).

(f) Memiliki semangat pelayanan yang menyala-nyala

Orang yang diurapi Tuhan adalah juga orang yang penuh semangat, bersikap optimis, dan penuh antusias. Roma 12.11 mengajak kita untuk terus memiliki roh yang menyala-nyala, dan terus melayani Tuhan. Kita menyadari talenta yang kita miliki, memberdayakannya semaksimal mungkin. Namun kita juga menghargai talenta orang lain, dan mendorongnya untuk lebih memberdayakan talentanya. Dalam teamwork kita maju bersama. Perbedaan dalam pelayanan bukanlah tantangan, melainkan kesempatan untuk bersinergi, melipat-gandakan potensi yang Allah sediakan bagi gereja-Nya.


4. Penutup


Setelah kita memahami makna dan fungsi urapan, menjadi kerinduan kita bersama untuk terus meminta, menjaga dan memelihara, serta menularkan urapan ini kepada mereka yang ada di sekitar kita.

http://petrusfs.wordpress.com/2008/02/11/tantangan-dan-urapan/

Filed Under:

About the Author

a man, 100% hand-made by GOD, one and only in this world :) love GOD because HE love me first.. and by HIS grace, I am able to run this blogspot called The Journey of The Messenjah blog.

Leave a Reply